Tragedi Bubat : Di belakang kelopak mawar
Bagaimana jika ternyata Tragedi Bubat menyimpan cerita lain yang tak pernah sejarah ketahui? Mawar, penari yang menyusup ke Majapahit sebagai mata-mata bertemu dengan Harsa, seorang panglima wira yang ditugaskan untuk memantau orang asing di Trowulan. Bagaimanakah kisah mereka?
Mawar, sang penari dari Pasundan, menjejakkan kakinya di Majapahit dengan misi rahasia, menyamar sebagai mata-mata Prabu Linggabuana. Malam demi malam, di balik tarian Kembang Pasundan yang memesona, ia menyalurkan sandi dan kode melalui selendang merahnya, membawa kabar strategi Majapahit tanpa pernah dicurigai.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Harsa, seorang Panglima Wira yang ditugaskan Gadjah Mada untuk mengintai. Di tepi kolam Sagara, Harsa membaca kode di balik tarian Mawar, "Mengapa seorang bidadari dari Tanah Pasundan sepertimu berperan sebagai ular di kandang harimau?" Mawar membalas, "Agar Harimau tak menerkam tanahku." Perbedaan tugas tak mampu menahan hati, benih asmara tumbuh di antara mereka. Harsa yang kini jatuh cinta, mencoba membujuk Gadjah Mada membatalkan rencana busuk perkawinan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, namun ditolak mentah-mentah.
Malam perjamuan terakhir, Mawar menari dengan segenap hati, mengirimkan peringatan terakhir kepada Prabu Linggabuana melalui gerak dan mimik wajahnya. Sayang, informasi tentang identitas aslinya terungkap pada Gadjah Mada tepat sebelum rombongan Padjadjaran menuju Bubat.
Gajah Mada mengabaikan Harsa dan tetap menjalankan siasatnya: menjadikan Dyah Pitaloka upeti dan menyandera Mawar sebagai umpan perang. Pertempuran tak terelakkan. Di tengah kekalahan Pasundan, Mawar berhasil lepas sejenak, melompat melindungi Dyah Pitaloka yang putus asa, namun ia tertangkap kembali. Tepat saat maut menjemputnya, Harsa muncul, menyelamatkan Mawar dari prajurit Majapahit, sementara Dyah Pitaloka memilih bunuh diri dengan tusuk konde. Dalam kekacauan itu, Harsa membawa Mawar yang pingsan, kembali ke Tanah Pasundan, meninggalkan Trowulan dan gelarnya demi cinta.
Bertahun-tahun berlalu, Mawar kini hidup damai, tetapi bayang-bayang Bubat tak pernah hilang. Hingga suatu hari, desas-desus tentang seorang pemuda misterius di gua perbukitan yang diam-diam membantu rakyat jelata menarik perhatiannya. Penasaran, ia mendatangi gua itu.
Di sana, Mawar menemukan Harsa, yang kini hidup sederhana, meninggalkan baju panglima dan gelarnya. Air mata Mawar menetes saat Harsa berujar, "Maaf, aku gagal menghentikan Bubat." Mawar tersenyum tulus, "Kau menyelamatkan jiwaku dengan mengajarkan kepercayaan. Tugas kita kini bukan di istana, Mas. Tugas kita di luar sana, membangun kembali." Mereka saling menatap, menyadari bahwa kisah cinta mereka, yang lahir dari pengkhianatan dan perang, kini berlanjut dalam pengabdian pada rakyat yang terluka.